Home » Blog » Khasiat Madu Berdasarkan Penelitian Ilmiah (1)


pembayaran
Pengiriman
Bee Pollen Kapsul
Rp 35000 Lebih Praktis
Details
Madu Randu 30kg
Rp 61.000/kg Aromanya Segar-Wangi
Details
Madu Randu Asli 700gr
Rp 64500 Obati Batuk/Pilek
Details
Madu Klanceng 720gr
Rp 158000 Plus Propolis
Details

Madu Obat

Luka
Penelitian dengan hewan

Berawal dengan penelitian madu secara empiris oleh para tentara perang Rusia dalam penyembuhan luka, Bergman dkk. (1983) melakukan penelitian madu pada tikus mencit. Tikus mencit dilukai di sekitar leher, dilakukan pemberian madu sebagai kelompok perlakuan dan larutan garam fisiologis (sesuai dengan osmolaritas tubuh) sebagai control negative.

Madu dan larutan garam fisiologis diberikan pada luka dua kali sehari selama 3, 6 dan 9 hari. Pembentukan jaringan dan epitel dinilai secara mkroskopik. Pembentukan kulit setelah pemberian madu mengalami kenaikan sebesar 58% setelah 3 hari, 114% setelah 6 hari, dan 12% setelah 9 hari dibandingkan dengan perlakuan luka dengangaram fisiologis. Setelah itu, ditemukan adanya pembentukan jaringan tebal di pusat luka pada mencit yang diberi perlakuan madu.

Selain pemberian madu secara topical/pada kulit, dilakukan pula penelitian kemampuan madu sebagai penyembuh luka secara oral (pemberian lewat mulut) pada tikus oleh Kandil dkk. (1987), El-Banby dkk. (1989), dan Suguna dkk. (1992). Madu diberikan secara oral sebanyak 0,5-1 ml kepada setiap tikus yang dilukai kulitnya. Madu yang diberikan secara oral ternyata mampu menyembuhkan luka sayatan pada tikus yang diteliti.

Luka yang diteliti bukan hanya luka sayatan, melainkan juga luka ulkus pada lambung yang disebabkan pemberian indometasin (Ali dkk, 1994) dan asetosal (Kandil dkk., 1987). Ali dkk. Memberikan madu selama dua kali sehari sebanyak 312 mg setiap kilogram berat badan tikus, sedangkan Kandil dkk. Memberikan madu sebanyak 4 gram setiap kilogram berat badan tikus selama tiga hari.

Ulkus yang disebabkan oleh indometasin maupun asetosal mampu disembuhkan oleh madu. Angka kesembuhan  pada penelitian Kandil dkk akibat pemberian madu berkisar sekitar 80%. Ali dkk. Menduga kemampuan madu sebagai penyembuh ulkus lambung disebabkan kekentalan madu yang mampu menjadi pelapis layaknya sucralfat (obat ulkus) dan adanya senyawa-senyawa dalam madu yang mampu meningkatan pembentukan granulasi sel-sel di lambung.

Penelitian pada manusia

Pemberian madu secara topical mampu menyembuhkan luka akibat tindakan bedah vulva pada pasien penderita kanker vulva. Penelitian dilakukan oleh Cavanagh dkk. (1970) pada 12 pasien. Pasien diberi madu yang diaspirasikan pada perban steril, setelah 3-8 minggu diperoleh hasil yang mengagumkan. Madu mampu menyembuhkan luka pada vulva sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri yang mengontaminasi luka pada vulva, yakni P.mirabilis, P.aeruginosa, E.coli, Enterobacter, S.faecalis, S.aureus, dan Clostridium perfringens.

Efem (1993) meneliti kemampuan madu sebagai penyembuh luka akibat gangrene, dan luka akibat diabetes mellitus pada pasien di Afrika. Madu diberikan secara topika sebanyak 15-30 ml sekali sehari. Luka gangrene dan luka diabetic sembuh dan membaik diikuti dengan tidak ditemukannya bakteri-bakteri yang sebelumnya ada di sekitar luka, yakni P.pyocyenea, E.coli, S.aureus,P.mirabilis, coliform. Klebsiella, Sterptococcus faecalis, dan Streptococcus pyogenes.

Luka  setelah operasi cesar juga tak luput dari penelitian para ahli dan dipublikasikan dalam Australia NZ Journal of Obstetrics & Gynaecology. Madu diaplikasikan dengan perban pada luka bekas operasi. Ditemukan kemampuan madu sebagai penyembuh luka bekas operasi Caesar akan membuka peluang penggunaan madu dalam klinik.

Kemampuan madu sebagai penyembuh luka dibandingkan dengan intraSite Gel. Penelitian dilakukan pada pekerja tambang emas dengan luka yang dangkal. Ditemukan lama penyembuhan pada luka tersebut tidak berbeda antara penggunaan madu dengan IntraSite Gel. Pada penyembuhan luka dengan madu, 27% subjek merasakan efek samping berupa gatal-gatal, sementara dengan IntraSiteGel sebanyak 31% subjek juga mengalami gatal-gatal. Selain itu, ditemukan adanya penghematan biaya dengan penggunaan madu dibandingkan dengan pemakaian IntraSite Gel (Ingle, R, dkk., 2006).

Luka Bakar
Penelitian dengan hewan

Penelitian kemampuan madu dalam menyembuhkan luka bakar pertamakali dilakukan oleh Postmes dkk. (1996) pada luka bakar babi. Selain madu, juga dilihat kemampuan larutan gula dan silver sulfadiazine (salep luka bakar yang telah terbukti efektif). Luka bakar yang diolesi madu, larutan gula dan silver sulfadiazine diamati secara histology selama hari ke-7 hingga ke-42 setelah terjadinya luka bakar. Madu dan larutan gula ternyata mampu menyembuhkan luka bakar setelah diberikan selama 21 hari, sedangkan waktu untuk penyembuhan luka bakar setelah pemberian silver sulfadiazine membutuhkan setidaknya 28 hingga 35 hari. Pada luka bakar yang diolesi madu dan larutan gula, ditemukan pembentukan myfibroblast.

Penelitian pada manusia

Pada manusia dengan luka bakar sebesar 40%, dari total 52 pasien yang diteliti oleh Subrahmanyam (1993) yang diberi 15-30 ml madu setiap hari, ditemukan bahwa madu mampu menumbuhkan jaringan baru setelah 7,4 hari, sedangkan 52 pasien luka bakar yang diberi silver sulfadiazine membutuhkan waktu hampir dua kalinya, yakni 13,4 hari. Selain itu, peneliti yang sama membandingkan kemampuan madu dengan moisture permeable polyurethane film (OpSite) steril dalam menyembuhkan luka bakar. Luka nakar yang diberi madu akan sembuh setelah 10,8 hari, sementara yang menggunakan OpSite membutuhkan waktu 15,3 hari.

Subrahmanyam juga membandingkan madu dengan kulit kentang rebus yang digunakan sebagai penyembuh luka bakar. Madu menyembuhkan luka bakar setelah 10,4 hari, sementara kulit kentang rebus membutuhkan waktu 16,3 hari. Pembentukan jaringan baru setelah pemberian madu juga lebih cepat, yakni 6,8 hari dibandingkan dengan kulit kentang yang butuh waktu 3 hari lebih lama.

Tampaknya Subrahmanyam belum puas dengan hasil penelitian ini, karena itu dia juga membandingkan madu denan membrane amnion yang diambil dari ibu yang melahirkan secara normal maupun bedah cesar. Empat puluh pasien luka bakar diberi madu secara topical, 24 lainnya mendapat cairan amnion. Kedua bahan diberikan kepada pasien setiap dua kali sehari. Setelah 9,4 hari, pasien luka bakar yang diberi madu mengalami penyembuhan, sedangkan yang mendapatkan cairan amnion butuh waktu 17,5 hari.

Ndayisaba dkk. (1993) juga melakukan penelitian luka bakar pada pasien di Burundi. Tiga puluh tiga pasien yang diolesi madu, mengalami penyembuhan luka bakar setelah 5-6 minggu.

sumber =>
http://id.wikipedia.org/wiki/Madu

Madu Kopi 30kg
Rp 63.000/kg Obati Insomnia
Details
Madu Kelengkeng 1kg
Rp 106000 Obati Radang Ginjal
Details
Madu Multi Flora 350gr
Rp 30500 Kecerdasan Otak
Details
Madu Pahit 370gr
Rp 30500 Obati Diabetes,Asam Urat
Details
Royal Jelly Asli Murni
Rp145.000
Rp 125.000
Details
Madu Kopi 500gr
Rp 47.500 Obati Susah Tidur
Details
Madu Alpukat 7kg
Rp 66000/kg Untuk Vitalitas
Details